RSS

Rabu, 22 Oktober 2014

Sejak Hari Itu..

Jadi, apa yang masih membuatmu bertahan sampai saat ini? | Cinta, mungkin.
Kau mencintainya? | I..ya..
Maka, buktikanlah J
-Cuplikan 11 Jam 45 Menit-
Karena cinta tak cukup jika ia hanya berhenti dalam kata-kata. Ia perlu bukti nyata, guys. Dengan apa? Just Give Your Best!
Yuk, manfaatkan waktu yang masih tersisa. Luruskan niat, Niatkan lurus.
Dan sekali lagi, Cinta. Cinta karena-Nya.
Di bawah langit senja bertemankan cahaya,

 Yk, 19 Juni 2014, 18:00

Jauh di Mata Namun Dekat di Hati

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Jarak dan waktu tak kan berarti
Karna kau akan selalu di hati
bagai detak jantung yang ku bawa ke manapun ku pergi
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Katanya, langit akan tetap satu meski bumi terus berputar. Gumpalan kapas putih yang bergerak pun akan tetap setia untuk sebiru langit yang membentang luas di sana. Kau tahu? Dalam penantian-penantian panjang ini, tak pernah sedikit pun terbersit dalam pemikiran sang awan untuk melawan kesetiaan yang dianugerahkan Rabb-nya pada dirinya. Hanya satu alasannya. Kesetiaan itu sendiri. Ya, kesetiaan kepada Rabb-nya lah yang  terus menuntunnya untuk tetap setia dalam penantian panjang ini tanpa hadirnya langit-langit yang lain.
Mencoba menelaah bagaimana kesetiaan sesosok  awan putih untuk kekasih hatinya, sang langit biru. Hmm meski sebenarnya sosok sang langit pun masih terhitung rahasia baginya.  Bagaimana sang langit yang sebenarnya, bagaimana akhlaqnya, bagaimana ibadahnya, dan seberapa besar rasa cinta sang langit pada Rabb-nya. Dan sekali lagi kesetiaan itulah yang turut membuat kepercayaan sang awan putih akan bunyi surat cinta dari Sang Maha Cinta semakin menggelora dalam sukma. Bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Begitu pun sebaliknya.
Banyak memang yang sering menanyakan kesendiriannya. Sepasang merpati yang melintasi cakrawala, pelangi yang bersorak sorai menyeru dunia, atau bahkan hujan yang mengajarinya bagaimana melepas air mata. Mereka selalu menanyakan keputusannya untuk sebuah penantian panjang. Tak bosankah? Tak sepikah? Tak merasa sendirikah?
Di saat yang sama pula, sudut-sudut hatinya semakin menggemakan asma-Nya. Kepercayaannya akan suatu skenario terindah dari Rabb-Nya untuk pertemuan mereka kelak semakin terukir di jiwa. Percaya dan semakin percaya bahwa suatu hari nanti...Iya! Suatu hari nanti! Suatu hari nanti mereka pasti akan dipertemukan.  Meski sang awan putih tahu, bahwa di antara sekian jarak dan waktu yang membentang, untuk saat ini ia hanya mampu menyapa sang langit biru via suara. Iya, suara doa dan kerinduan yang dititipkan untuk sang langit biru pada Rabb-nya di setiap sujud malam sang awan J

Di bawah langit istimewa
Yogyakarta, 22 Oktober 2014