Aku
di sini dan kau di sana
Hanya
berjumpa via suara
Namun
ku selalu menunggu saat kita akan berjumpa
Meski
kau kini jauh di sana
Kita
memandang langit yang sama
Jauh
di mata namun dekat di hati
Jarak
dan waktu tak kan berarti
Karna
kau akan selalu di hati
bagai
detak jantung yang ku bawa ke manapun ku pergi
Meski
kau kini jauh di sana
Kita memandang
langit yang sama
Jauh
di mata namun dekat di hati
Katanya, langit akan tetap satu
meski bumi terus berputar. Gumpalan kapas putih yang bergerak pun akan tetap setia
untuk sebiru langit yang membentang luas di sana. Kau tahu? Dalam
penantian-penantian panjang ini, tak pernah sedikit pun terbersit dalam pemikiran
sang awan untuk melawan kesetiaan yang dianugerahkan Rabb-nya pada dirinya. Hanya
satu alasannya. Kesetiaan itu sendiri. Ya, kesetiaan kepada Rabb-nya lah yang terus menuntunnya untuk tetap setia dalam penantian
panjang ini tanpa hadirnya langit-langit yang lain.
Mencoba menelaah bagaimana
kesetiaan sesosok awan putih untuk
kekasih hatinya, sang langit biru. Hmm meski sebenarnya sosok sang langit pun
masih terhitung rahasia baginya. Bagaimana sang langit yang sebenarnya,
bagaimana akhlaqnya, bagaimana ibadahnya, dan seberapa besar rasa cinta sang
langit pada Rabb-nya. Dan sekali lagi kesetiaan itulah yang turut membuat
kepercayaan sang awan putih akan bunyi surat cinta dari Sang Maha Cinta semakin
menggelora dalam sukma. Bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan
perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Begitu pun sebaliknya.
Banyak memang yang sering menanyakan
kesendiriannya. Sepasang merpati yang melintasi cakrawala, pelangi yang
bersorak sorai menyeru dunia, atau bahkan hujan yang mengajarinya bagaimana
melepas air mata. Mereka selalu menanyakan keputusannya untuk sebuah penantian
panjang. Tak bosankah? Tak sepikah? Tak merasa sendirikah?
Di
saat yang sama pula, sudut-sudut hatinya semakin menggemakan asma-Nya.
Kepercayaannya akan suatu skenario terindah dari Rabb-Nya untuk pertemuan mereka
kelak semakin terukir di jiwa. Percaya dan semakin percaya bahwa suatu hari
nanti...Iya! Suatu hari nanti! Suatu hari nanti mereka pasti akan dipertemukan.
Meski sang awan putih tahu, bahwa di
antara sekian jarak dan waktu yang membentang, untuk saat ini ia hanya mampu menyapa sang
langit biru via suara. Iya, suara doa dan kerinduan yang dititipkan untuk sang
langit biru pada Rabb-nya di setiap sujud malam sang awan J
Di bawah langit istimewa
Yogyakarta, 22 Oktober 2014