Oleh Rizqi Khilda Amalia
Pendidikan Matematika Pascasarjana kelas C
Tak
terasa, perkuliahan Filsafat Ilmu yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. di
kelas Pendidikan Matematika Pascasarjana sudah berjalan hampir satu semester.
Yang artinya bahwa perkuliahan Filsafat Ilmu ini akan segera selesai. Berbeda
dengan tahun-tahun sebelumnya, perkuliahan Filsafat Ilmu semester ini dilakukan
secara online penuh.
Biasanya, Prof. Dr.
Marsigit, M.A. akan mengadakan kuliah tatap muka secara online tiap dua pekan
sekali melalui aplikasi Zoom. Di forum tersebut, beliau akan menjelaskan banyak
hal mengenai Filsafat Ilmu di bidang Pendidikan Matematika sekaligus akan
menyediakan sesi Tanya jawab dengan mahasiswa. Selain menggunakan forum tatap
muka online, beliau juga menghendaki mahasiswa untuk melakukan aktivitas
belajar mandiri melalui berbagai media yang ada seperti video pembelajaran
Filsafat Ilmu milik Pak Marsigit di youtube.
Selama perkuliahan, ada
banyak hal yang saya pelajari dari perkuliahan Filsafat Ilmu. Di antaranya
yaitu bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna dalam kesempurnaan
dan sempurna dalam ketidaksempurnaan. Saya memahami hal ini sebagai sebuah
pemahaman bahwa meskipun seorang manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna,
namun ketidaksempurnaan itulah yang justru menjadikannya sempurna. Seperti
dalam hal mengubah takdir. Tidak ada manusia yang bisa mengubah takdir, kecuali
dengan Kuasa Tuhan. Dan di sinilah letak kesempurnaannya. Jika saja semua orang
bisa mengubah takdir sesuka hati tanpa kuasa Tuhan, maka dunia ini mungkin akan
hancur dan tidak memiliki keselarasan yang indah di dalamnya. Ketidaksempurnaan
ini pulalah yang memungkinkan manusia untuk hidup. Jika manusia sempurna, ia
tidak mungkin hidup.
Kehidupan manusia
sendiri berada di antara fatal dan vital. Fatal berarti hal hal yang tidak bisa
dipilih dan bersifat tetap seperti takdir. Sedangkan vital berarti hal-hal yang
bisa dipilih dan diusahakan atau diikhtiarkan. Salah satu hal yang masuk
keranah vital adalah pembelajaran matematika.
Pembelajaran matematika
merupakan suatu hal yang bisa diikhtiarkan. Manusia yang terlibat di dalamnya
seperti guru dan siswa dapat memilih dan mengusahakan pembelajaran matematika
yang efektif untuk dilakukan. Pemilihan pembelajaran ini dapat dilakukan dengan
menyesuaikan antara banyak aspek, seperti materi yang perlu dikuasai siswa,
kondisi siswa, dan kemampuan yang perlu ditanamkan oleh guru kepada siswa.
Pada suatu perkuliahan,
Prof. Dr. Marsigit, M.A. pernah mengatakan bahwa pada hakikatnya pembelajaran
matematika di tingkat sekolah dasar adalah kegiatan sosial. Maksudnya yaitu
bahwa penekanan pembelajaran matematika di sekolah dasar tidak diletakkan pada
keabstrakan konsep matematika, melainkan pada nilai-nilai kerjasama dan praktik
matematika dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga berlaku pada penerapan
pembelajaran matematika di kelas 5 pada jenjang sekolah dasar.
Di kelas 5, penerapan
konsep matematika sebagai kegiatan sosial menjadi sedikit berbeda dengan
tingkat-tingkat sebelumnya. Salah satu hal yang membedakan adalah tingkat
kompleksitasnya. Karena kelas 5 tergolong sebagai kelas yang tinggi di sekolah
dasar, maka materi matematika yang disampaikan juga menjadi lebih kompleks
karena siswa dianggap sudah memiliki pengetahuan yang cukup banyak untuk tingkatan
sekolah dasar. Namun, pada hakikatnya pembelajaran matematika tetap disampaikan
sebagai kegiatan sosial.
Konsep pembelajaran
matematika sebagai kegiatan sosial ini dimaksudkan agar siswa dapat membangun
minat terhadap matematika sejak dini. Mereka juga akan mulai bersahabat dengan
matematika sebagai suatu hal yang menyenangkan. Harapannya, pengenalan
pembelajaran matematika di kelas 5 sekolah dasar sebagai kegiatan sosial bisa menjadi
bekal dan pemacu bagi siswa untuk lebih bersemangat dalam mempelajari
matematika di kelas 6 maupun saat sudah melanjutkan sekolah ke tingkat yang
lebih tinggi yaitu SMP dan SMA.


