RSS

Rabu, 16 Oktober 2013

Something but Nothing

SOMETHING BUT NOTHING

            Dan tiba-tiba, GELAP !
      Konsleting listrik membuat semburat sinar rembulan malam ini menjadi semakin terang. Memantul keemasan membentuk bayangannya sendiri di atas teras putih depan kamarku. Sebuah rembulan berlingkar penuh yang dikelilingi oleh begitu banyak bintang. Ah, mungkin itu dia. Dikelilingi oleh begitu banyak bintang, hingga ia tak bisa mengenali satu per satu bintang di atas sana. Padahal, boleh jadi sebuah bintang nan jauh darinya justru sedang memandangnya. Merindukan saat-saat terdekat dengannya. Meski entah kapan semua itu akan terjadi. Benar-benar pemandangan yang terasa sangat kontras dengan suasana sendu gelap yang timbul karena konsleting listrik ini. Menunggu. Ya, menunggu sebuah pancaran untuk kembali datang bersama dengan denting waktu yang terus berjalan.

“Kalau kakak sih, lebih milih buat jadi yang terakhir daripada yang pertama.”

      Hemm, pertemuan di bawah tenda matematika itu mungkin lama kelamaan akan mengubah perasaan yang tadinya hanya sekedar teorema menjadi sebuah aksioma. Pertemuan yang kebetulan? Kurasa tidak. Logikaku menolaknya kuat-kuat. Entah mengapa, semakin hari aku semakin tak percaya akan sebuah kebetulan. Karena menurutku ini adalah peluang yang memang Allah takdirkan untuk diriku dan dirinya yaitu kami, hari itu.

Dan kau hadir mengubah  segalanya, menjadi lebih indah.
Kau bawa cintaku setinggi angkasa, membuatku merasa sempurna.

      Tiba-tiba saja lagu bertajuk “Lebih Indah” milik Adera mengalun pelan bersama terbiaskannya cahaya rembulan. Semilir angin malam gemerisik menembus rimbunan pohon. Pemandangan yang indah. Dari jendela berbingkai coklat tua ini aku menyaksikan kekontrasan kolaborasi yang mereka lakukan. Satu rembulan dengan ribuan bintang. Apa mungkin rembulan itu akan tahu bahwa ada satu bintang yang kini tengah memandangnya dari kejauhan? Lamunanku melanglang buana menyusuri lekuk-lekuk langit di angkasa raya.

      Dan, Byaarr.. Cahaya kehidupan kembali tergambar di sekitar sini. Lampu-lampu mungil itu kembali menampakkan sinarnya. Bersinergi dengan kekuatan listrik dan membentuk cahaya lalu menebarkannya di bumi bersama dengan energi panas yang menghangatkan. Keadaan sekitar pun mulai terlihat normal. Namun aku belum beranjak dari jendela coklat ini. Langit bersama goresan bulan dan bintangnya tetap terlihat indah meski kini terlihat agak redup. Tertandingi oleh cahaya listrik yang letaknya tentu lebih berdekatan denganku.

      Satu, Dua, Tiga, Empat, dan masih banyak lagi bintang yang bertebaran di sekitar rembulan itu. Aku rasa, peluang agar bintang terjauh itu bisa berdekatan dengan bulan sangat sedikit. Meski begitu, bintang terjauh itu tetap riang memancarkan cahayanya. Ah, harusnya aku bisa begitu.

“Arai ! ayo cepetan, kita ada kelas loh habis ini.” Aku tersentak.

      Kutilik sebentar arah sumber suara itu. Ah iya itu Jeni. Teman baruku di kampus ini. Belum terlalu dekat, sih. Hanya teman biasa. Wanita berkerudung dengan celan jeans dan gaya tomboy-nya. Aku menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Kembali kuhadapkan pandangan ini ke arah laki-laki di depanku. Ya, laki-laki berperawakan tinggi, kurus, dan berkacamata yang hampir mirip dengan seorang tokoh kartun Jepang, Shinichi Kudo. Wajahnya yang babyface seakan tak menampakkkan bahwa ia adalah kakak senior yang umurnya 3 tahun lebih tua dari pada aku. Akan tetapi meski begitu, kebijaksanaan dan kedewasaannya memang tak dapat dipungkiri apalagi ketika kata-katanya mulai terangkai dan berjalan menyusuri penjuru hati setiap orang yang mendengarnya. Layaknya aku.

“Arai?” suara itu memanggil namaku. Tapi siapa?
lamunanku terpecah. Hey, dia yang memanggilku. Antara percaya dan tidak percaya, laki-laki yang bahkan belum kuketahui namanya hingga saat ini memanggilku. Tak terasa segores senyum terlukis di wajahku.

“Tau nggak, nama kita sama loh.” Katanya sambil tersenyum memandangku. Ah, satu lagi pernyataan yang membuatku tak percaya. Kita punya nama yang sama? Oh no ! ini bukan mimpi kan?

“Serius kak?” jawabku memastikan.

Dia mengangguk pelan. Dan sekali lagi, bunga cinta bermekaran dalam jiwaku...
-o-
17 September 2013, 09.05 WIB

“Lama banget sih?!”
“Iya nih, belajar apaan coba?!”
“Aduh, bete bangeeeeettt.”
“Panaass!”

Suara riuh menggema di balkon lantai 2 kampusku. Rupanya mereka sudah gerah dengan penantian yang cukup lama. Kelas kami memang seharusnya sudah masuk pukul 09.00 tadi. Dan seharusnya sekarang kami sedang duduk di kelas itu bersama materi aljabar dan trigonometri. Ah, aku pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Namun aku memilih untuk diam.

“Ada Kak Arai loh di dalem.” 

Kak Arai? Nama itu membuatku berada pada pertemuan antara rasa percaya dan tak percaya. Secara perlahan tapi pasti aku mulai melangkahkan kaki mungil ini meski untuk sekedar menengok dan menilik jendela ruang kuliah itu, memastikan. Dan benar! Nyiur hijau bersama desiran angin sepoi pantai pasir putih menggelayut dalam benakku. Bunga-bunga mekar berjatuhan menebar aroma wangi di sekitar. Seteguk air es memenuhi kerongkongan di tengah hawa panas kering padang pasir. Menyejukkan.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri di depan ruangan itu. Berpura-pura sibuk membuka-buka buku sakuku bersama sebuah bolpoin di genggaman tangan. Ada sebuah harap terlintas di sana. Harapan akan sebuah sapaan untuk pertemuan kedua kami ini. Beribu kata mulai menggelayuti pikiranku.
“Assalamu’alaikum?”
“Hai?”
“ Apa kabar?”
Atau hanya sebatas sebuah sapaan nama. “Kak Arai?”
Ah, kurasa itu klise.

Satu demi satu mahasiswa keluar dari ruangan itu. Kak Yanuar, Kak Anin, Kak Dewi, Kak Jimmy, dan hemm, aku belum melihat batang hidungnya. Aku tetap berada pada posisi semula sambil celingak celinguk mencari sosok itu. Dan akhirnya dia datang. Dia mulai melangkah dengan gaya biasanya. Tapi tidak sebiasa itu bagiku. Senyum yang menghiasi wajahnya membuat jantungku semakin berdebar. Aku yang memutuskan untuk sekedar melempar senyum padanya mulai tak tenang.

Berjalan dan semakin mendekat. Dentingan jantung ini semakin tak karuan rasanya. Rasanya aku mulai tak sanggup meski hanya untuk melempar senyum padanya. Aku harus kuat.
“Kamu bisa, Arai. Kamu bisa.” Aku berbisik pada diriku sendiri.

Daya sebesar 1000 Watt mulai kukerahkan, namun tatapan itu tak kunjung terlihat. Dia hanya berjalan melewatiku tanpa sedikitpun tolehan. Dan aku pun memutuskan untuk menyimpan daya itu saja. Barangkali suatu hari nanti akan lebih berguna. Agak kecewa sih tapi apa daya. Dia hanya berjalan melangkah menjauhi ruangan itu tanpa melihatku. Meski aku tahu ia tetap seramah dulu bersama senyuman manisnya. Tapi bukan hanya untukku melainkan untuk kita semua. Hingga akhirnya bersama ujung perspektif, ia pun menghilang. Kukira kita mempunyai kesan yang sama atas pertemuan kemarin sore itu. Tapi ternyata aku salah. Kesan itu bahkan tak lebih dari sekedar epsilon baginya. Sebuah kesan yang something bagiku tapi nothing baginya.

Fiuhh, mungkin aku adalah bagian dari korban keramahan. Mencoba menciptakan sendiri sebuah ilusi yang bahkan tak pernah terjadi. Hingga akhirnya jatuh dalam jurang ilusi menjadi salah satu pilihan yang tak dapat kutolak. Tak kusangka ilusi ini terlalu pintar membohongiku. Membuatku merasakan something yang ternyata nothing baginya. 
Yogyakarta, 16 Oktober 2013
-Auroramalia-