SOMETHING BUT
NOTHING
Dan
tiba-tiba, GELAP !
Konsleting listrik membuat semburat sinar rembulan malam ini menjadi
semakin terang. Memantul keemasan membentuk bayangannya sendiri di atas teras putih
depan kamarku. Sebuah rembulan berlingkar penuh yang dikelilingi oleh begitu
banyak bintang. Ah, mungkin itu dia. Dikelilingi oleh begitu banyak bintang,
hingga ia tak bisa mengenali satu per satu bintang di atas sana. Padahal, boleh
jadi sebuah bintang nan jauh darinya justru sedang memandangnya. Merindukan
saat-saat terdekat dengannya. Meski entah kapan semua itu akan terjadi.
Benar-benar pemandangan yang terasa sangat kontras dengan suasana sendu gelap
yang timbul karena konsleting listrik ini. Menunggu. Ya, menunggu sebuah pancaran
untuk kembali datang bersama dengan denting waktu yang terus berjalan.
“Kalau kakak sih, lebih
milih buat jadi yang terakhir daripada yang pertama.”
Hemm, pertemuan di bawah tenda matematika itu mungkin lama
kelamaan akan mengubah perasaan yang tadinya hanya sekedar teorema menjadi
sebuah aksioma. Pertemuan yang kebetulan? Kurasa tidak. Logikaku menolaknya
kuat-kuat. Entah mengapa, semakin hari aku semakin tak percaya akan sebuah
kebetulan. Karena menurutku ini adalah peluang yang memang Allah takdirkan
untuk diriku dan dirinya yaitu kami, hari itu.
Dan kau hadir mengubah segalanya, menjadi lebih indah.
Kau bawa cintaku setinggi
angkasa, membuatku merasa sempurna.
Tiba-tiba saja lagu bertajuk “Lebih Indah” milik Adera mengalun
pelan bersama terbiaskannya cahaya rembulan. Semilir angin malam gemerisik
menembus rimbunan pohon. Pemandangan yang indah. Dari jendela berbingkai coklat
tua ini aku menyaksikan kekontrasan kolaborasi yang mereka lakukan. Satu
rembulan dengan ribuan bintang. Apa mungkin rembulan itu akan tahu bahwa ada
satu bintang yang kini tengah memandangnya dari kejauhan? Lamunanku melanglang
buana menyusuri lekuk-lekuk langit di angkasa raya.
Dan, Byaarr.. Cahaya kehidupan kembali tergambar di
sekitar sini. Lampu-lampu mungil itu kembali menampakkan sinarnya. Bersinergi
dengan kekuatan listrik dan membentuk cahaya lalu menebarkannya di bumi bersama
dengan energi panas yang menghangatkan. Keadaan sekitar pun mulai terlihat
normal. Namun aku belum beranjak dari jendela coklat ini. Langit bersama
goresan bulan dan bintangnya tetap terlihat indah meski kini terlihat agak
redup. Tertandingi oleh cahaya listrik yang letaknya tentu lebih berdekatan
denganku.
Satu, Dua, Tiga, Empat, dan masih banyak lagi bintang yang
bertebaran di sekitar rembulan itu. Aku rasa, peluang agar bintang terjauh itu
bisa berdekatan dengan bulan sangat sedikit. Meski begitu, bintang terjauh itu
tetap riang memancarkan cahayanya. Ah, harusnya aku bisa begitu.
“Arai ! ayo cepetan, kita
ada kelas loh habis ini.” Aku tersentak.
Kutilik sebentar arah sumber suara itu. Ah iya itu Jeni. Teman
baruku di kampus ini. Belum terlalu dekat, sih. Hanya teman biasa.
Wanita berkerudung dengan celan jeans dan gaya tomboy-nya. Aku menganggukkan
kepala sebagai tanda persetujuan. Kembali kuhadapkan pandangan ini ke arah
laki-laki di depanku. Ya, laki-laki berperawakan tinggi, kurus, dan berkacamata
yang hampir mirip dengan seorang tokoh kartun Jepang, Shinichi Kudo. Wajahnya
yang babyface seakan tak menampakkkan bahwa ia adalah kakak senior yang
umurnya 3 tahun lebih tua dari pada aku. Akan tetapi meski begitu, kebijaksanaan
dan kedewasaannya memang tak dapat dipungkiri apalagi ketika kata-katanya mulai
terangkai dan berjalan menyusuri penjuru hati setiap orang yang mendengarnya.
Layaknya aku.
“Arai?” suara itu
memanggil namaku. Tapi siapa?
lamunanku terpecah. Hey,
dia yang memanggilku. Antara percaya dan tidak percaya, laki-laki yang bahkan
belum kuketahui namanya hingga saat ini memanggilku. Tak terasa segores senyum
terlukis di wajahku.
“Tau nggak, nama kita
sama loh.” Katanya sambil tersenyum memandangku. Ah, satu lagi pernyataan yang
membuatku tak percaya. Kita punya nama yang sama? Oh no ! ini bukan mimpi kan?
“Serius kak?” jawabku
memastikan.
Dia mengangguk pelan. Dan
sekali lagi, bunga cinta bermekaran dalam jiwaku...
-o-
17 September
2013, 09.05 WIB
“Lama banget sih?!”
“Iya nih, belajar apaan
coba?!”
“Aduh, bete
bangeeeeettt.”
“Panaass!”
Suara riuh menggema di
balkon lantai 2 kampusku. Rupanya mereka sudah gerah dengan penantian yang
cukup lama. Kelas kami memang seharusnya sudah masuk pukul 09.00 tadi. Dan
seharusnya sekarang kami sedang duduk di kelas itu bersama materi aljabar dan
trigonometri. Ah, aku pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Namun aku memilih
untuk diam.
“Ada Kak Arai loh di
dalem.”
Kak Arai? Nama itu
membuatku berada pada pertemuan antara rasa percaya dan tak percaya. Secara
perlahan tapi pasti aku mulai melangkahkan kaki mungil ini meski untuk sekedar
menengok dan menilik jendela ruang kuliah itu, memastikan. Dan benar! Nyiur
hijau bersama desiran angin sepoi pantai pasir putih menggelayut dalam benakku.
Bunga-bunga mekar berjatuhan menebar aroma wangi di sekitar. Seteguk air es
memenuhi kerongkongan di tengah hawa panas kering padang pasir. Menyejukkan.
Tanpa pikir panjang, aku
langsung berdiri di depan ruangan itu. Berpura-pura sibuk membuka-buka buku
sakuku bersama sebuah bolpoin di genggaman tangan. Ada sebuah harap terlintas
di sana. Harapan akan sebuah sapaan untuk pertemuan kedua kami ini. Beribu kata
mulai menggelayuti pikiranku.
“Assalamu’alaikum?”
“Hai?”
“ Apa kabar?”
Atau hanya sebatas sebuah
sapaan nama. “Kak Arai?”
Ah, kurasa itu klise.
Satu demi satu mahasiswa
keluar dari ruangan itu. Kak Yanuar, Kak Anin, Kak Dewi, Kak Jimmy, dan hemm,
aku belum melihat batang hidungnya. Aku tetap berada pada posisi semula sambil
celingak celinguk mencari sosok itu. Dan akhirnya dia datang. Dia mulai
melangkah dengan gaya biasanya. Tapi tidak sebiasa itu bagiku. Senyum yang
menghiasi wajahnya membuat jantungku semakin berdebar. Aku yang memutuskan
untuk sekedar melempar senyum padanya mulai tak tenang.
Berjalan dan semakin
mendekat. Dentingan jantung ini semakin tak karuan rasanya. Rasanya aku mulai
tak sanggup meski hanya untuk melempar senyum padanya. Aku harus kuat.
“Kamu bisa, Arai. Kamu
bisa.” Aku berbisik pada diriku sendiri.
Daya sebesar 1000 Watt
mulai kukerahkan, namun tatapan itu tak kunjung terlihat. Dia hanya berjalan
melewatiku tanpa sedikitpun tolehan. Dan aku pun memutuskan untuk menyimpan
daya itu saja. Barangkali suatu hari nanti akan lebih berguna. Agak kecewa sih
tapi apa daya. Dia hanya berjalan melangkah menjauhi ruangan itu tanpa
melihatku. Meski aku tahu ia tetap seramah dulu bersama senyuman manisnya. Tapi
bukan hanya untukku melainkan untuk kita semua. Hingga akhirnya bersama ujung perspektif,
ia pun menghilang. Kukira kita mempunyai kesan yang sama atas pertemuan kemarin
sore itu. Tapi ternyata aku salah. Kesan itu bahkan tak lebih dari sekedar epsilon
baginya. Sebuah kesan yang something bagiku tapi nothing baginya.
Fiuhh, mungkin aku adalah
bagian dari korban keramahan. Mencoba menciptakan sendiri sebuah ilusi yang bahkan
tak pernah terjadi. Hingga akhirnya jatuh dalam jurang ilusi menjadi salah satu
pilihan yang tak dapat kutolak. Tak kusangka ilusi ini terlalu pintar
membohongiku. Membuatku merasakan something yang ternyata nothing
baginya.
Yogyakarta, 16
Oktober 2013
-Auroramalia-

0 komentar:
Posting Komentar