Oleh : Rizqi Khilda Amalia
Mata kuliah Filsafat Ilmu, Kelas C S2 Pendidikan Matematika
FMIPA UNY
Merupakan suatu
kesempatan yang luar biasa bisa berkenalan dengan salah satu karya dari Immanuel
Kant yang berjudul The Critique of Pure Reason. Dalam buku ini, utamanya
Kant membahas tentang konsep analisis transedental. Sebuah konsep yang paling
penting dari The Critique of Pure Reason. Meski pembahasan di dalamnya
tentu tidak hanya terbatas pada konsep tersebut saja. Dalam penulisan buku ini,
Kant juga memakai dan msngkritisi gagasan-gagasan filsuf besar yang
mempengaruhi zamannya seperti gagasan-gagasan filsafat empirik Hume, Berkeley,
dan Locke.
Pada buku Critique
of Pure Reason ini, Kant sedikit menyinggung tentang pembahasan terhadap
istilah estetika. Bagi orang biasa, istilah estetika memiliki kaitan erat
dengan ungkapan apresiatif terhadap keindahan dan seni. Namun, bukan itu yang
dimaksud oleh Kant terkait istilah estetika dalam buku ini. Istilah estetika yang
dimaksud Kant dalam buku ini mengacu pada pengertian studi tentang persepsi
yang ditangkap melalui indera secara langsung.
Kant membagi estetika
menjadi dua bagian, yaitu aspek intuitif dan aspek konseptual. Sementara itu, menurut
Kant, persepsi merupakan ‘data mentah’ yang hanya mencapai suatu keteraturan
dan pengertian lewat konseptualisasi. Kant juga memberikan pengertiannya yang
khas dalam memahami kata ‘intuisi’. Alih-alih menggunakan istilah
‘pengalaman/pengetahuan langsung’ untuk mengartikan kata ‘intuisi’, Kant justru
mengartikannya dengan hanya merujuk pada suatu kondisi pengamatan sesuatu,
tanpa konseptualisasi terhadap data tersebut.
Kant berpendapat bahwa
manusia tidak dapat terus menerus meragukan pengetahuannya sendiri. Di sinilah
letak ‘tugas mendesak’ para filsuf, yaitu untuk mengeksplorasi apa saja yang
terlibat dalam proses mengetahui. Melalui The Critique of Pure Reason, Kant
hendak mengeksplorasi kondisi-kondisi penentu manusia dalam memiliki
pengetahuan. Kant melihat permasalahan ini secara analitis, sehingga dapat
dipecahkan melalui penalaran.
Kant membagi
pengetahuan kita menjadi sebagai berikut.
·
Suatu pernyataan bersifat analitik, jika
predikag dari objek termuata dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “bola itu
bulat”. Pernyataan ini bernilai benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam
subjek “bola”.
·
Suatu pernyataan bersifat tidak analitik
jika pertanyaan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek.
Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan
sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu berwarna merah.”
·
Suatu pernyataan disebut benar secara a
priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi
pada pengalaman.
·
Suatu pernyataan disebut benar secara a
posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi
pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan
bukti empiris.
Kant berpendapat bahwa
studi filsafat bisa menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori
sintetik, seperti pernyataan kausalitas. Dan kajian filsafat modern nyatanya sering
berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan ini bersebrangan
dengan aliran empirisme seperti David Hume yang saat itu populer di dunia
filsafat. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut justru ia anggap sebagai
bentuk a priori sintetik.
Pikiran manusia,
menurut Kant, bersifat transenden. Transeden bagi Kant berarti sesuatu yang berada
di luar jangkauan pengalaman. Sedangkan melalui konsep transendental, Kant hendak
menyelidiki bagaimana cara kita mengetahui.
Sementara itu, Kant
juga menyebutkan tentang deduksi transendental. Deduksi transendental merupakan
metode deduksi logika dengan dua buah premis, sebagaimana berikut ini :
1.
Hanya jika A maka B,
2.
B telah kita alami maka,
3.
A
Contoh penerapan metode
deduksi transendental adalah keharusan kesatuan diri sepanjang mengalami segala
sesuatu. Artinya, hanya pada satu pengamat yang mengalami pengalaman berkesinambungan,
maka pengamatan dapat dilakukan. Contoh silogisme nya adalah sebagai berikut.
1.
Hanya jika terdapat kesatuan diri di
sepanjang waktu maka saya dapat menikmati tuak.
2.
Saya pernah menikmati tuak, maka
3.
Terdapat kesatuan diri saya sepanjang
waktu.
Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika
konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung
pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada.
Menurut Kant, “seluruh pengetahuan berawal dari
pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan
berasal secara langsung dari pengalaman.” Dalam hal ini, Kant juga secara tersirat
menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental
bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak
dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.
Melalui epistemologisnya, Kant mengakui argumen
filsuf empiris seperti Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal
dari pengalaman. Di sisi lain, Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti
Leibniz yang berpendapat bahwa ide-ide dan pemikiran merupakan esensi dari
pengetahuan. Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang
bertentangan waktu itu.
Seluruh fenomenan yang kita alami saat ini selalu
berkaitan materi dan forma. Materi merupakan sensasi sekilas. Sedangkan forma
merupakan cara kita memahami sensasi tersebut. Sebagai contoh, ruangan
merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna dan pencahayaan.
Menurut Kant, forma merupakan struktur yang dapat
kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara kita
memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma
merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh
intuisi untuk memahami forma.
Selanjutnya, ruang dan waktu merupakan forma yang
digunakan dalam melihat dunia. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan
konseptual. Ruang dan waktu adalah cara kita mengalami dunia. Oleh karena itu,
ruang dan waktu berada di luar pengalaman.
Kant berpendapat bahwa keduanya tidak dapat
dipelajari. Oleh sebab itu, keduanya bukanlah konsep. Maknanya adalah suatu
konsep berkorespondensi dengan pengalaman menjadi suatu peradaban tertentu akan
mengkonseptualisasi dunia berbeda dengan yang lainnya. Namun, ruang dan waktu
merupakan suatu yang niscaya dalam setiap peradaban.
Kemudian, ruang dan waktu merupakan bagian dari
konsep tentang ruang dan waktu. Hal ini tidak berlaku bagi konsep, contohnya
konsep tentang bintang tidak mengandung contoh tersebut dari bintang itu
sendiri.
Kant berpendapat bahwa ruang dan waktu itu nyata dan
empiris. Namun dengan menggunakan metode pemeriksaan transendental kita juga
mengetahui bahwa ruang dan waktu tidak merepresentasikan sifat-sifat das Ding
an sich. Sebaliknya, keduanya merupakan bagian dari cara kita memandang
dunia. Kant menunjukkan kesatuan kedua konsep ruang dan waktu sebagai berikut.
1.
Ruang dan waktu memiliki objektivitas empiris karena keduanya merupakan prasyarat yang
diperlukan untuk mengalami dunia objektif.
2.
Ruang dan waktu juga memiliki sisi
subjektivitas transendental karena keduanya merupakan forma, yang mana melalui
keduanya, pikiran dapat memahami dunia.
Selanjutnya yaitu
logika. Kant menyatakan bahwa logika merupakan ilmu tentang hukum pemahaman.
Kant membagi logima ke dalam tiga kategori yaitu:
1. 1. Logika umum
2. 2. Logika khusus
3. 3. Logika transendental
Demikian, tulisan yang bisa saya tangkap dari buku The Critique of Pure Reason. Meski masih sederhana dan terbatas karena pemikiran saya, tapi semoga bermanfaat.
© Filsafat Rizqi Khilda Amalia

1 komentar:
Wih 👍🏻
Posting Komentar