RSS

Senin, 25 Januari 2021

MARSIGIT FILSAFAT ILMU RIZQI KHILDA AMALIA : MENJELAJAH PEMIKIRAN IMMANUEL KANT

 

Oleh : Rizqi Khilda Amalia

Mata kuliah Filsafat Ilmu, Kelas C S2 Pendidikan Matematika FMIPA UNY

 

Merupakan suatu kesempatan yang luar biasa bisa berkenalan dengan salah satu karya dari Immanuel Kant yang berjudul The Critique of Pure Reason. Dalam buku ini, utamanya Kant membahas tentang konsep analisis transedental. Sebuah konsep yang paling penting dari The Critique of Pure Reason. Meski pembahasan di dalamnya tentu tidak hanya terbatas pada konsep tersebut saja. Dalam penulisan buku ini, Kant juga memakai dan msngkritisi gagasan-gagasan filsuf besar yang mempengaruhi zamannya seperti gagasan-gagasan filsafat empirik Hume, Berkeley, dan Locke.

Pada buku Critique of Pure Reason ini, Kant sedikit menyinggung tentang pembahasan terhadap istilah estetika. Bagi orang biasa, istilah estetika memiliki kaitan erat dengan ungkapan apresiatif terhadap keindahan dan seni. Namun, bukan itu yang dimaksud oleh Kant terkait istilah estetika dalam buku ini. Istilah estetika yang dimaksud Kant dalam buku ini mengacu pada pengertian studi tentang persepsi yang ditangkap melalui indera secara langsung.

Kant membagi estetika menjadi dua bagian, yaitu aspek intuitif dan aspek konseptual. Sementara itu, menurut Kant, persepsi merupakan ‘data mentah’ yang hanya mencapai suatu keteraturan dan pengertian lewat konseptualisasi. Kant juga memberikan pengertiannya yang khas dalam memahami kata ‘intuisi’. Alih-alih menggunakan istilah ‘pengalaman/pengetahuan langsung’ untuk mengartikan kata ‘intuisi’, Kant justru mengartikannya dengan hanya merujuk pada suatu kondisi pengamatan sesuatu, tanpa konseptualisasi terhadap data tersebut.

Kant berpendapat bahwa manusia tidak dapat terus menerus meragukan pengetahuannya sendiri. Di sinilah letak ‘tugas mendesak’ para filsuf, yaitu untuk mengeksplorasi apa saja yang terlibat dalam proses mengetahui. Melalui The Critique of Pure Reason, Kant hendak mengeksplorasi kondisi-kondisi penentu manusia dalam memiliki pengetahuan. Kant melihat permasalahan ini secara analitis, sehingga dapat dipecahkan melalui penalaran.

Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut.

·         Suatu pernyataan bersifat analitik, jika predikag dari objek termuata dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “bola itu bulat”. Pernyataan ini bernilai benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek “bola”.

·         Suatu pernyataan bersifat tidak analitik jika pertanyaan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu berwarna merah.”

·         Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.

·         Suatu pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris.

Kant berpendapat bahwa studi filsafat bisa menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori sintetik, seperti pernyataan kausalitas. Dan kajian filsafat modern nyatanya sering berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan ini bersebrangan dengan aliran empirisme seperti David Hume yang saat itu populer di dunia filsafat. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut justru ia anggap sebagai bentuk a priori sintetik.

Pikiran manusia, menurut Kant, bersifat transenden. Transeden bagi Kant berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman. Sedangkan melalui konsep transendental, Kant hendak menyelidiki bagaimana cara kita mengetahui.

Sementara itu, Kant juga menyebutkan tentang deduksi transendental. Deduksi transendental merupakan metode deduksi logika dengan dua buah premis, sebagaimana berikut ini :

1.      Hanya jika A maka B,

2.      B telah kita alami maka,

3.      A

Contoh penerapan metode deduksi transendental adalah keharusan kesatuan diri sepanjang mengalami segala sesuatu. Artinya, hanya pada satu pengamat yang mengalami pengalaman berkesinambungan, maka pengamatan dapat dilakukan. Contoh silogisme nya adalah sebagai berikut.

1.      Hanya jika terdapat kesatuan diri di sepanjang waktu maka saya dapat menikmati tuak.

2.      Saya pernah menikmati tuak, maka

3.      Terdapat kesatuan diri saya sepanjang waktu.

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada.

Menurut Kant, “seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman.” Dalam hal ini, Kant juga secara tersirat menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.

Melalui epistemologisnya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain, Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat bahwa ide-ide dan pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan. Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu.

Seluruh fenomenan yang kita alami saat ini selalu berkaitan materi dan forma. Materi merupakan sensasi sekilas. Sedangkan forma merupakan cara kita memahami sensasi tersebut. Sebagai contoh, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna dan pencahayaan.

Menurut Kant, forma merupakan struktur yang dapat kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.

Selanjutnya, ruang dan waktu merupakan forma yang digunakan dalam melihat dunia. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan konseptual. Ruang dan waktu adalah cara kita mengalami dunia. Oleh karena itu, ruang dan waktu berada di luar pengalaman.

Kant berpendapat bahwa keduanya tidak dapat dipelajari. Oleh sebab itu, keduanya bukanlah konsep. Maknanya adalah suatu konsep berkorespondensi dengan pengalaman menjadi suatu peradaban tertentu akan mengkonseptualisasi dunia berbeda dengan yang lainnya. Namun, ruang dan waktu merupakan suatu yang niscaya dalam setiap peradaban.

Kemudian, ruang dan waktu merupakan bagian dari konsep tentang ruang dan waktu. Hal ini tidak berlaku bagi konsep, contohnya konsep tentang bintang tidak mengandung contoh tersebut dari bintang itu sendiri.

Kant berpendapat bahwa ruang dan waktu itu nyata dan empiris. Namun dengan menggunakan metode pemeriksaan transendental kita juga mengetahui bahwa ruang dan waktu tidak merepresentasikan sifat-sifat das Ding an sich. Sebaliknya, keduanya merupakan bagian dari cara kita memandang dunia. Kant menunjukkan kesatuan kedua konsep ruang dan waktu sebagai berikut.

1.      Ruang dan waktu memiliki objektivitas empiris  karena keduanya merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mengalami dunia objektif.

2.      Ruang dan waktu juga memiliki sisi subjektivitas transendental karena keduanya merupakan forma, yang mana melalui keduanya, pikiran dapat memahami dunia.

Selanjutnya yaitu logika. Kant menyatakan bahwa logika merupakan ilmu tentang hukum pemahaman. Kant membagi logima ke dalam tiga kategori yaitu:

1.      1. Logika umum

2.     2.  Logika khusus

3.     3.  Logika transendental

Demikian, tulisan yang bisa saya tangkap dari buku The Critique of Pure Reason. Meski masih sederhana dan terbatas karena pemikiran saya, tapi semoga bermanfaat.

© Filsafat Rizqi Khilda Amalia

 

 

 

 

 

 

1 komentar:

rintik mengatakan...

Wih 👍🏻

Posting Komentar