1. When you become a leader, maka selelah-lelahnya kamu, jangan tunjukkan kelelahanmu pada staff-staffmu.
Harus tetep semangat!
2. When you become a leader, maka segalau-galaunya kamu, jangan tunjukkan kegalauanmu pada staff-staffmu.
senyuuum ^^
3. When you become a leader, maka kamu harus tahu, kapan harus jadi leader, kapan harus jadi kakak, dan kapan harus jadi adik.
4. When you become a leader, maka itulah saat yang tepat untuk belajar menepis rasa lelah, mengeluh, marah, sebal, dsb.
5. When you become a leader, maka harus tetap semangat, senyum, bersinar, menyinari, maaf, tolong, terima kasih ^^
6. When you become a leader, mk nikmati proses belajar itu. Salah khilaf itu biasa. Karena aku, kamu, dia, kita, sama2 belajar :)
Semangat Leader!
Rabu, 23 April 2014
Kamis, 20 Maret 2014
Rembulan
"Saat gelap mulai bertiup membungkus langit, maka di saat itulah aku semakin melihat semburat sinarnya di langit sana." -rembulan-
Berada di tempat yang kontras dengan kegelapan mungkin agak menyakitkan. Karena kita tak bisa melihat segalanya dengan cukup baik, hingga kita tak bisa bergerak seleluasa saat mentari memancarkan senyumnya pada langit biru. Tapi bisakah kita melihatnya dari sisi yang lain?
Karena mungkin, inilah waktu yang tepat untuk bersinar.
Karena mungkin, inilah alasan mengapa Allah menempatkanmu di sini, di tempat ini.
Ya, untuk bersinar dan menyinari!
Meski harus berjuang dua kali lipat, tapi inilah jalan yang harus kita hadapi. Jalan perjuangan. Karena hidup memang harus diperjuangkan bukan? Dan kau tahu? Mungkin inilah saat yang tepat untuk tak sekedar bersinar, tapi juga menyinari. Tapi juga menyinari. Semangat dua kali lipat! Lillah. Lillah. Lillah.
Karena kita istimewa ^_^
Sabtu, 01 Maret 2014
Ini Tentang Kita #2
Berubah?|iya po?
Beda?|hmm..
Asing?|iyakah..?
Udah nggak sejalan?|masak sih..?
Udah nggak nyambung?|ah, nggak juga.
Karena entah kenapa diri ini masih menyisakan sebuah kepercayaan bahwa kau tak berubah, kau tak berbeda, kau bukan orang asing, kita masih sejalan, dan kita masih bisa saling mengerti. Bukan begitu?
Beda?|hmm..
Asing?|iyakah..?
Udah nggak sejalan?|masak sih..?
Udah nggak nyambung?|ah, nggak juga.
Karena entah kenapa diri ini masih menyisakan sebuah kepercayaan bahwa kau tak berubah, kau tak berbeda, kau bukan orang asing, kita masih sejalan, dan kita masih bisa saling mengerti. Bukan begitu?
Rabu, 26 Februari 2014
Ini Tentang Kita #1
Entah mengapa...
Senja selalu istimewa di mataku
Senja selalu mengingatkanku pada banyak sosok di luar sana
Dan senja selalu mengajakku berjalan beriringan mengenal alunan kehidupan
Tak terhitung sudah berapa senja yang kulewati di sini.. di kota ini...
Bersama desir angin yang menghembuskan aroma perjuangan
Bersama riuh dedaunan yang membisikkan sebuah kerinduan
Dan bersama siul hujan yang merintikkan melodi persaudaraan
Kali ini, kucoba menapaki jejak-jejak ukhuwah kota ini...
Meski aku tahu..
Langit mulai menggumpal abu
Rintik hujan mulai runtuh
Dan jalanan mulai terlihat berkaca
Langkah kecil ini tetap mantap bersuka mengikuti arah setapak
Hati ini tetap menikmati melodi alam yang bertiup sendu
Dan jiwa ini tetap tenang memandang senja yang mulai menggeliatkan pesona malamnya
Kau tahu mengapa?
Karena semua ini tentang kau.. aku..
Kita...
Ukhuwah...
Cinta...
dan Allah...
Bukan begitu?
Senja selalu istimewa di mataku
Senja selalu mengingatkanku pada banyak sosok di luar sana
Dan senja selalu mengajakku berjalan beriringan mengenal alunan kehidupan
Tak terhitung sudah berapa senja yang kulewati di sini.. di kota ini...
Bersama desir angin yang menghembuskan aroma perjuangan
Bersama riuh dedaunan yang membisikkan sebuah kerinduan
Dan bersama siul hujan yang merintikkan melodi persaudaraan
Kali ini, kucoba menapaki jejak-jejak ukhuwah kota ini...
Meski aku tahu..
Langit mulai menggumpal abu
Rintik hujan mulai runtuh
Dan jalanan mulai terlihat berkaca
Langkah kecil ini tetap mantap bersuka mengikuti arah setapak
Hati ini tetap menikmati melodi alam yang bertiup sendu
Dan jiwa ini tetap tenang memandang senja yang mulai menggeliatkan pesona malamnya
Kau tahu mengapa?
Karena semua ini tentang kau.. aku..
Kita...
Ukhuwah...
Cinta...
dan Allah...
Bukan begitu?
Selasa, 25 Februari 2014
FIRST MEETING IN ENGLISH CLASS WITH MR. MARSIGIT AND MR. ILHAM
Mr. Marsigit and Mr. Ilham are English
lecturers in my class, Mathematic
Education C 2013. In our first meeting last week, Mr. Marsigit and Mr. Ilham
shared their experiences when they was studying abroad and of course, they also
gived us some informations about assumptions to started the English class next.
Before they gived us some assumptions, Mr. Marsigit and Mr. Ilham introduced
their self.
Mr. Marsigit is a lecturer here and
also Mr. Ilham. Mr. Marsigit has a wife and two sons. He also has one grandson
and two daughter- in law. He said if he had five son, may be the last son will
have same ages with us which ages are about eighteen years old. Mr. Marsigit talked to us that he was graduated
from Institute of Education in London University. While Mr. Ilham was graduated
from Utrecht University Netherland.
After they talked about their
experiences when they was studying abroad, they continued our English class by
giving some assumptions about our English class next. The following assumptions
of our English class are:
1.
We have some
experiences in delanguage English since we’re in Junior High School or Senior
High School.
2.
We are adults.
3.
We are
responsible for our own learning.
4.
We have similar
chance to learn English including Mr. Marsigit and Mr. Ilham that still
learning English too.
5.
We should be an
active learner.
It is important
because it is according with our knowledge about English.
6.
English is
life.
Because English
is life, so the components inside must be live too. And to study something
which is life, we must use a life approach that need e process. Process and
activities is important for us to show that we are still live.
7.
Learning is
constructing your capability in English.
8.
Learning
English is to construct our English.
9.
English is a
language and language is communication.
10.
Learning
English for Mathematic education is consist of speaking, reading, writing,
seeing, translating, showing, listening, understanding, answering, etc.
Beside the assumptions, Mr. Marsigit
also explained about judgement methodes in our English class. They are:
1.
Weekly test consists of vocabulary, grammar, and generally text.
2. Learning Mr.
Marsigit text books (Mathematic
Billingual Books for International Class in Junior High School VII, VIII, IX).
3.
Online
Reflection.
4. Online activity
such as commented in Mr. Marsigit blog
(marsigitenglish.blogspot.com or powermathematics.blogspot.com). 1 comment, 1
point.
5.
Presentation. In this activity we must search and download the recording
Mathematic Education teaching in English version then we must practice it.
Minggu, 23 Februari 2014
Please! Don't use code
Kode?
Pasti udah familiar banget dong ya sama istilah ini. And you know what, I don't like it some much. Untuk mengerti seseorang yang suka memakai 'kode-kode buatan' adalah sebuah pekerjaan yang tak kusukai. Mungkin lebih tepat dengan istilah agak membuang-buang waktu. Tiba-tiba ngambeklah, tiba-tiba cemberut, sedih. Haruskah aku mengartikan semuanya?
Hey, nggak semua orang punya daya kepekaan yang sama, right? Dan nggak semua orang harus mengerti kamu kan?
Jadi, mulai sekarang minimalisir penggunaan 'kode-kode buatan' itu ya ukh. Kalau ada masalah, katakan saja. Barangkali diri ini bisa sedikit meringankan beban di pundakmu itu.
Pasti udah familiar banget dong ya sama istilah ini. And you know what, I don't like it some much. Untuk mengerti seseorang yang suka memakai 'kode-kode buatan' adalah sebuah pekerjaan yang tak kusukai. Mungkin lebih tepat dengan istilah agak membuang-buang waktu. Tiba-tiba ngambeklah, tiba-tiba cemberut, sedih. Haruskah aku mengartikan semuanya?
Hey, nggak semua orang punya daya kepekaan yang sama, right? Dan nggak semua orang harus mengerti kamu kan?
Jadi, mulai sekarang minimalisir penggunaan 'kode-kode buatan' itu ya ukh. Kalau ada masalah, katakan saja. Barangkali diri ini bisa sedikit meringankan beban di pundakmu itu.
Rabu, 16 Oktober 2013
Something but Nothing
SOMETHING BUT
NOTHING
Dan
tiba-tiba, GELAP !
Konsleting listrik membuat semburat sinar rembulan malam ini menjadi
semakin terang. Memantul keemasan membentuk bayangannya sendiri di atas teras putih
depan kamarku. Sebuah rembulan berlingkar penuh yang dikelilingi oleh begitu
banyak bintang. Ah, mungkin itu dia. Dikelilingi oleh begitu banyak bintang,
hingga ia tak bisa mengenali satu per satu bintang di atas sana. Padahal, boleh
jadi sebuah bintang nan jauh darinya justru sedang memandangnya. Merindukan
saat-saat terdekat dengannya. Meski entah kapan semua itu akan terjadi.
Benar-benar pemandangan yang terasa sangat kontras dengan suasana sendu gelap
yang timbul karena konsleting listrik ini. Menunggu. Ya, menunggu sebuah pancaran
untuk kembali datang bersama dengan denting waktu yang terus berjalan.
“Kalau kakak sih, lebih
milih buat jadi yang terakhir daripada yang pertama.”
Hemm, pertemuan di bawah tenda matematika itu mungkin lama
kelamaan akan mengubah perasaan yang tadinya hanya sekedar teorema menjadi
sebuah aksioma. Pertemuan yang kebetulan? Kurasa tidak. Logikaku menolaknya
kuat-kuat. Entah mengapa, semakin hari aku semakin tak percaya akan sebuah
kebetulan. Karena menurutku ini adalah peluang yang memang Allah takdirkan
untuk diriku dan dirinya yaitu kami, hari itu.
Dan kau hadir mengubah segalanya, menjadi lebih indah.
Kau bawa cintaku setinggi
angkasa, membuatku merasa sempurna.
Tiba-tiba saja lagu bertajuk “Lebih Indah” milik Adera mengalun
pelan bersama terbiaskannya cahaya rembulan. Semilir angin malam gemerisik
menembus rimbunan pohon. Pemandangan yang indah. Dari jendela berbingkai coklat
tua ini aku menyaksikan kekontrasan kolaborasi yang mereka lakukan. Satu
rembulan dengan ribuan bintang. Apa mungkin rembulan itu akan tahu bahwa ada
satu bintang yang kini tengah memandangnya dari kejauhan? Lamunanku melanglang
buana menyusuri lekuk-lekuk langit di angkasa raya.
Dan, Byaarr.. Cahaya kehidupan kembali tergambar di
sekitar sini. Lampu-lampu mungil itu kembali menampakkan sinarnya. Bersinergi
dengan kekuatan listrik dan membentuk cahaya lalu menebarkannya di bumi bersama
dengan energi panas yang menghangatkan. Keadaan sekitar pun mulai terlihat
normal. Namun aku belum beranjak dari jendela coklat ini. Langit bersama
goresan bulan dan bintangnya tetap terlihat indah meski kini terlihat agak
redup. Tertandingi oleh cahaya listrik yang letaknya tentu lebih berdekatan
denganku.
Satu, Dua, Tiga, Empat, dan masih banyak lagi bintang yang
bertebaran di sekitar rembulan itu. Aku rasa, peluang agar bintang terjauh itu
bisa berdekatan dengan bulan sangat sedikit. Meski begitu, bintang terjauh itu
tetap riang memancarkan cahayanya. Ah, harusnya aku bisa begitu.
“Arai ! ayo cepetan, kita
ada kelas loh habis ini.” Aku tersentak.
Kutilik sebentar arah sumber suara itu. Ah iya itu Jeni. Teman
baruku di kampus ini. Belum terlalu dekat, sih. Hanya teman biasa.
Wanita berkerudung dengan celan jeans dan gaya tomboy-nya. Aku menganggukkan
kepala sebagai tanda persetujuan. Kembali kuhadapkan pandangan ini ke arah
laki-laki di depanku. Ya, laki-laki berperawakan tinggi, kurus, dan berkacamata
yang hampir mirip dengan seorang tokoh kartun Jepang, Shinichi Kudo. Wajahnya
yang babyface seakan tak menampakkkan bahwa ia adalah kakak senior yang
umurnya 3 tahun lebih tua dari pada aku. Akan tetapi meski begitu, kebijaksanaan
dan kedewasaannya memang tak dapat dipungkiri apalagi ketika kata-katanya mulai
terangkai dan berjalan menyusuri penjuru hati setiap orang yang mendengarnya.
Layaknya aku.
“Arai?” suara itu
memanggil namaku. Tapi siapa?
lamunanku terpecah. Hey,
dia yang memanggilku. Antara percaya dan tidak percaya, laki-laki yang bahkan
belum kuketahui namanya hingga saat ini memanggilku. Tak terasa segores senyum
terlukis di wajahku.
“Tau nggak, nama kita
sama loh.” Katanya sambil tersenyum memandangku. Ah, satu lagi pernyataan yang
membuatku tak percaya. Kita punya nama yang sama? Oh no ! ini bukan mimpi kan?
“Serius kak?” jawabku
memastikan.
Dia mengangguk pelan. Dan
sekali lagi, bunga cinta bermekaran dalam jiwaku...
-o-
17 September
2013, 09.05 WIB
“Lama banget sih?!”
“Iya nih, belajar apaan
coba?!”
“Aduh, bete
bangeeeeettt.”
“Panaass!”
Suara riuh menggema di
balkon lantai 2 kampusku. Rupanya mereka sudah gerah dengan penantian yang
cukup lama. Kelas kami memang seharusnya sudah masuk pukul 09.00 tadi. Dan
seharusnya sekarang kami sedang duduk di kelas itu bersama materi aljabar dan
trigonometri. Ah, aku pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Namun aku memilih
untuk diam.
“Ada Kak Arai loh di
dalem.”
Kak Arai? Nama itu
membuatku berada pada pertemuan antara rasa percaya dan tak percaya. Secara
perlahan tapi pasti aku mulai melangkahkan kaki mungil ini meski untuk sekedar
menengok dan menilik jendela ruang kuliah itu, memastikan. Dan benar! Nyiur
hijau bersama desiran angin sepoi pantai pasir putih menggelayut dalam benakku.
Bunga-bunga mekar berjatuhan menebar aroma wangi di sekitar. Seteguk air es
memenuhi kerongkongan di tengah hawa panas kering padang pasir. Menyejukkan.
Tanpa pikir panjang, aku
langsung berdiri di depan ruangan itu. Berpura-pura sibuk membuka-buka buku
sakuku bersama sebuah bolpoin di genggaman tangan. Ada sebuah harap terlintas
di sana. Harapan akan sebuah sapaan untuk pertemuan kedua kami ini. Beribu kata
mulai menggelayuti pikiranku.
“Assalamu’alaikum?”
“Hai?”
“ Apa kabar?”
Atau hanya sebatas sebuah
sapaan nama. “Kak Arai?”
Ah, kurasa itu klise.
Satu demi satu mahasiswa
keluar dari ruangan itu. Kak Yanuar, Kak Anin, Kak Dewi, Kak Jimmy, dan hemm,
aku belum melihat batang hidungnya. Aku tetap berada pada posisi semula sambil
celingak celinguk mencari sosok itu. Dan akhirnya dia datang. Dia mulai
melangkah dengan gaya biasanya. Tapi tidak sebiasa itu bagiku. Senyum yang
menghiasi wajahnya membuat jantungku semakin berdebar. Aku yang memutuskan
untuk sekedar melempar senyum padanya mulai tak tenang.
Berjalan dan semakin
mendekat. Dentingan jantung ini semakin tak karuan rasanya. Rasanya aku mulai
tak sanggup meski hanya untuk melempar senyum padanya. Aku harus kuat.
“Kamu bisa, Arai. Kamu
bisa.” Aku berbisik pada diriku sendiri.
Daya sebesar 1000 Watt
mulai kukerahkan, namun tatapan itu tak kunjung terlihat. Dia hanya berjalan
melewatiku tanpa sedikitpun tolehan. Dan aku pun memutuskan untuk menyimpan
daya itu saja. Barangkali suatu hari nanti akan lebih berguna. Agak kecewa sih
tapi apa daya. Dia hanya berjalan melangkah menjauhi ruangan itu tanpa
melihatku. Meski aku tahu ia tetap seramah dulu bersama senyuman manisnya. Tapi
bukan hanya untukku melainkan untuk kita semua. Hingga akhirnya bersama ujung perspektif,
ia pun menghilang. Kukira kita mempunyai kesan yang sama atas pertemuan kemarin
sore itu. Tapi ternyata aku salah. Kesan itu bahkan tak lebih dari sekedar epsilon
baginya. Sebuah kesan yang something bagiku tapi nothing baginya.
Fiuhh, mungkin aku adalah
bagian dari korban keramahan. Mencoba menciptakan sendiri sebuah ilusi yang bahkan
tak pernah terjadi. Hingga akhirnya jatuh dalam jurang ilusi menjadi salah satu
pilihan yang tak dapat kutolak. Tak kusangka ilusi ini terlalu pintar
membohongiku. Membuatku merasakan something yang ternyata nothing
baginya.
Yogyakarta, 16
Oktober 2013
-Auroramalia-
