RSS

Kamis, 20 Maret 2014

Rembulan

"Saat gelap mulai bertiup membungkus langit, maka di saat itulah aku semakin melihat semburat sinarnya di langit sana." -rembulan-

Berada di tempat yang kontras dengan kegelapan mungkin agak menyakitkan. Karena kita tak bisa melihat segalanya dengan cukup baik, hingga kita tak bisa bergerak seleluasa saat mentari memancarkan senyumnya pada langit biru. Tapi bisakah kita melihatnya dari sisi yang lain?
Karena mungkin, inilah waktu yang tepat untuk bersinar.
Karena mungkin, inilah alasan mengapa Allah menempatkanmu di sini, di tempat ini.
Ya, untuk bersinar dan menyinari!
Meski harus berjuang dua kali lipat, tapi inilah jalan yang harus kita hadapi. Jalan perjuangan. Karena hidup memang harus diperjuangkan bukan? Dan kau tahu? Mungkin inilah saat yang tepat untuk tak sekedar bersinar, tapi juga menyinari. Tapi juga menyinari. Semangat dua kali lipat! Lillah. Lillah. Lillah.
Karena kita istimewa ^_^

Sabtu, 01 Maret 2014

Ini Tentang Kita #2

Berubah?|iya po?
Beda?|hmm..
Asing?|iyakah..?
Udah nggak sejalan?|masak sih..?
Udah nggak nyambung?|ah, nggak juga.
Karena entah kenapa diri ini masih menyisakan sebuah kepercayaan bahwa kau tak berubah, kau tak berbeda, kau bukan orang asing, kita masih sejalan, dan kita masih bisa saling mengerti. Bukan begitu?

Rabu, 26 Februari 2014

Ini Tentang Kita #1

Entah mengapa...
Senja selalu istimewa di mataku
Senja selalu mengingatkanku pada banyak sosok di luar sana
Dan senja selalu mengajakku berjalan beriringan mengenal alunan kehidupan

Tak terhitung sudah berapa senja yang kulewati di sini.. di kota ini...
Bersama desir angin yang menghembuskan aroma perjuangan
Bersama riuh dedaunan yang membisikkan sebuah kerinduan
Dan bersama siul hujan yang merintikkan melodi persaudaraan

Kali ini, kucoba menapaki jejak-jejak ukhuwah kota ini...
Meski aku tahu..
Langit mulai menggumpal abu
Rintik hujan mulai runtuh
Dan jalanan mulai terlihat berkaca

Langkah kecil ini tetap mantap bersuka mengikuti arah setapak
Hati ini tetap menikmati melodi alam yang bertiup sendu
Dan jiwa ini tetap tenang memandang senja yang mulai menggeliatkan pesona malamnya

Kau tahu mengapa?
Karena semua ini tentang kau.. aku..
Kita...
Ukhuwah...
Cinta...
dan Allah...
Bukan begitu?

Selasa, 25 Februari 2014

FIRST MEETING IN ENGLISH CLASS WITH MR. MARSIGIT AND MR. ILHAM


            Mr. Marsigit and Mr. Ilham are English lecturers  in my class, Mathematic Education C 2013. In our first meeting last week, Mr. Marsigit and Mr. Ilham shared their experiences when they was studying abroad and of course, they also gived us some informations about assumptions to started the English class next. Before they gived us some assumptions, Mr. Marsigit and Mr. Ilham introduced their self.
            Mr. Marsigit is a lecturer here and also Mr. Ilham. Mr. Marsigit has a wife and two sons. He also has one grandson and two daughter- in law. He said if he had five son, may be the last son will have same ages with us which ages are about eighteen years old.  Mr. Marsigit talked to us that he was graduated from Institute of Education in London University. While Mr. Ilham was graduated from Utrecht University Netherland.
            After they talked about their experiences when they was studying abroad, they continued our English class by giving some assumptions about our English class next. The following assumptions of our English class are:
1.      We have some experiences in delanguage English since we’re in Junior High School or Senior High School.
2.      We are adults.
3.      We are responsible for our own learning.
4.      We have similar chance to learn English including Mr. Marsigit and Mr. Ilham that still learning English too.
5.      We should be an active learner.
It is important because it is according with our knowledge about English.
6.      English is life.
Because English is life, so the components inside must be live too. And to study something which is life, we must use a life approach that need e process. Process and activities is important for us to show that we are still live.
7.      Learning is constructing your capability in English.
8.      Learning English is to construct our English.
9.      English is a language and language is communication.
10.  Learning English for Mathematic education is consist of speaking, reading, writing, seeing, translating, showing, listening, understanding, answering, etc.
            Beside the assumptions, Mr. Marsigit also explained about judgement methodes in our English class. They are:
1.      Weekly test consists of vocabulary, grammar, and generally text.
2.   Learning Mr. Marsigit text books (Mathematic Billingual Books for International Class in Junior High School VII, VIII, IX).
3.      Online Reflection.
4.  Online activity such as commented in Mr. Marsigit blog (marsigitenglish.blogspot.com or powermathematics.blogspot.com). 1 comment, 1 point.
5.      Presentation. In this activity we must search and download the recording Mathematic Education teaching in English version then we must practice it.

Minggu, 23 Februari 2014

Please! Don't use code

Kode?
Pasti udah familiar banget dong ya sama istilah ini. And you know what, I don't like it some much. Untuk mengerti seseorang yang suka memakai 'kode-kode buatan' adalah sebuah pekerjaan yang tak kusukai. Mungkin lebih tepat dengan istilah agak membuang-buang waktu. Tiba-tiba ngambeklah, tiba-tiba cemberut, sedih. Haruskah aku mengartikan semuanya?
Hey, nggak semua orang punya daya kepekaan yang sama, right? Dan nggak semua orang harus mengerti kamu kan?
Jadi, mulai sekarang minimalisir penggunaan 'kode-kode buatan' itu ya ukh. Kalau ada masalah, katakan saja. Barangkali diri ini bisa sedikit meringankan beban di pundakmu itu. 

Rabu, 16 Oktober 2013

Something but Nothing

SOMETHING BUT NOTHING

            Dan tiba-tiba, GELAP !
      Konsleting listrik membuat semburat sinar rembulan malam ini menjadi semakin terang. Memantul keemasan membentuk bayangannya sendiri di atas teras putih depan kamarku. Sebuah rembulan berlingkar penuh yang dikelilingi oleh begitu banyak bintang. Ah, mungkin itu dia. Dikelilingi oleh begitu banyak bintang, hingga ia tak bisa mengenali satu per satu bintang di atas sana. Padahal, boleh jadi sebuah bintang nan jauh darinya justru sedang memandangnya. Merindukan saat-saat terdekat dengannya. Meski entah kapan semua itu akan terjadi. Benar-benar pemandangan yang terasa sangat kontras dengan suasana sendu gelap yang timbul karena konsleting listrik ini. Menunggu. Ya, menunggu sebuah pancaran untuk kembali datang bersama dengan denting waktu yang terus berjalan.

“Kalau kakak sih, lebih milih buat jadi yang terakhir daripada yang pertama.”

      Hemm, pertemuan di bawah tenda matematika itu mungkin lama kelamaan akan mengubah perasaan yang tadinya hanya sekedar teorema menjadi sebuah aksioma. Pertemuan yang kebetulan? Kurasa tidak. Logikaku menolaknya kuat-kuat. Entah mengapa, semakin hari aku semakin tak percaya akan sebuah kebetulan. Karena menurutku ini adalah peluang yang memang Allah takdirkan untuk diriku dan dirinya yaitu kami, hari itu.

Dan kau hadir mengubah  segalanya, menjadi lebih indah.
Kau bawa cintaku setinggi angkasa, membuatku merasa sempurna.

      Tiba-tiba saja lagu bertajuk “Lebih Indah” milik Adera mengalun pelan bersama terbiaskannya cahaya rembulan. Semilir angin malam gemerisik menembus rimbunan pohon. Pemandangan yang indah. Dari jendela berbingkai coklat tua ini aku menyaksikan kekontrasan kolaborasi yang mereka lakukan. Satu rembulan dengan ribuan bintang. Apa mungkin rembulan itu akan tahu bahwa ada satu bintang yang kini tengah memandangnya dari kejauhan? Lamunanku melanglang buana menyusuri lekuk-lekuk langit di angkasa raya.

      Dan, Byaarr.. Cahaya kehidupan kembali tergambar di sekitar sini. Lampu-lampu mungil itu kembali menampakkan sinarnya. Bersinergi dengan kekuatan listrik dan membentuk cahaya lalu menebarkannya di bumi bersama dengan energi panas yang menghangatkan. Keadaan sekitar pun mulai terlihat normal. Namun aku belum beranjak dari jendela coklat ini. Langit bersama goresan bulan dan bintangnya tetap terlihat indah meski kini terlihat agak redup. Tertandingi oleh cahaya listrik yang letaknya tentu lebih berdekatan denganku.

      Satu, Dua, Tiga, Empat, dan masih banyak lagi bintang yang bertebaran di sekitar rembulan itu. Aku rasa, peluang agar bintang terjauh itu bisa berdekatan dengan bulan sangat sedikit. Meski begitu, bintang terjauh itu tetap riang memancarkan cahayanya. Ah, harusnya aku bisa begitu.

“Arai ! ayo cepetan, kita ada kelas loh habis ini.” Aku tersentak.

      Kutilik sebentar arah sumber suara itu. Ah iya itu Jeni. Teman baruku di kampus ini. Belum terlalu dekat, sih. Hanya teman biasa. Wanita berkerudung dengan celan jeans dan gaya tomboy-nya. Aku menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Kembali kuhadapkan pandangan ini ke arah laki-laki di depanku. Ya, laki-laki berperawakan tinggi, kurus, dan berkacamata yang hampir mirip dengan seorang tokoh kartun Jepang, Shinichi Kudo. Wajahnya yang babyface seakan tak menampakkkan bahwa ia adalah kakak senior yang umurnya 3 tahun lebih tua dari pada aku. Akan tetapi meski begitu, kebijaksanaan dan kedewasaannya memang tak dapat dipungkiri apalagi ketika kata-katanya mulai terangkai dan berjalan menyusuri penjuru hati setiap orang yang mendengarnya. Layaknya aku.

“Arai?” suara itu memanggil namaku. Tapi siapa?
lamunanku terpecah. Hey, dia yang memanggilku. Antara percaya dan tidak percaya, laki-laki yang bahkan belum kuketahui namanya hingga saat ini memanggilku. Tak terasa segores senyum terlukis di wajahku.

“Tau nggak, nama kita sama loh.” Katanya sambil tersenyum memandangku. Ah, satu lagi pernyataan yang membuatku tak percaya. Kita punya nama yang sama? Oh no ! ini bukan mimpi kan?

“Serius kak?” jawabku memastikan.

Dia mengangguk pelan. Dan sekali lagi, bunga cinta bermekaran dalam jiwaku...
-o-
17 September 2013, 09.05 WIB

“Lama banget sih?!”
“Iya nih, belajar apaan coba?!”
“Aduh, bete bangeeeeettt.”
“Panaass!”

Suara riuh menggema di balkon lantai 2 kampusku. Rupanya mereka sudah gerah dengan penantian yang cukup lama. Kelas kami memang seharusnya sudah masuk pukul 09.00 tadi. Dan seharusnya sekarang kami sedang duduk di kelas itu bersama materi aljabar dan trigonometri. Ah, aku pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Namun aku memilih untuk diam.

“Ada Kak Arai loh di dalem.” 

Kak Arai? Nama itu membuatku berada pada pertemuan antara rasa percaya dan tak percaya. Secara perlahan tapi pasti aku mulai melangkahkan kaki mungil ini meski untuk sekedar menengok dan menilik jendela ruang kuliah itu, memastikan. Dan benar! Nyiur hijau bersama desiran angin sepoi pantai pasir putih menggelayut dalam benakku. Bunga-bunga mekar berjatuhan menebar aroma wangi di sekitar. Seteguk air es memenuhi kerongkongan di tengah hawa panas kering padang pasir. Menyejukkan.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri di depan ruangan itu. Berpura-pura sibuk membuka-buka buku sakuku bersama sebuah bolpoin di genggaman tangan. Ada sebuah harap terlintas di sana. Harapan akan sebuah sapaan untuk pertemuan kedua kami ini. Beribu kata mulai menggelayuti pikiranku.
“Assalamu’alaikum?”
“Hai?”
“ Apa kabar?”
Atau hanya sebatas sebuah sapaan nama. “Kak Arai?”
Ah, kurasa itu klise.

Satu demi satu mahasiswa keluar dari ruangan itu. Kak Yanuar, Kak Anin, Kak Dewi, Kak Jimmy, dan hemm, aku belum melihat batang hidungnya. Aku tetap berada pada posisi semula sambil celingak celinguk mencari sosok itu. Dan akhirnya dia datang. Dia mulai melangkah dengan gaya biasanya. Tapi tidak sebiasa itu bagiku. Senyum yang menghiasi wajahnya membuat jantungku semakin berdebar. Aku yang memutuskan untuk sekedar melempar senyum padanya mulai tak tenang.

Berjalan dan semakin mendekat. Dentingan jantung ini semakin tak karuan rasanya. Rasanya aku mulai tak sanggup meski hanya untuk melempar senyum padanya. Aku harus kuat.
“Kamu bisa, Arai. Kamu bisa.” Aku berbisik pada diriku sendiri.

Daya sebesar 1000 Watt mulai kukerahkan, namun tatapan itu tak kunjung terlihat. Dia hanya berjalan melewatiku tanpa sedikitpun tolehan. Dan aku pun memutuskan untuk menyimpan daya itu saja. Barangkali suatu hari nanti akan lebih berguna. Agak kecewa sih tapi apa daya. Dia hanya berjalan melangkah menjauhi ruangan itu tanpa melihatku. Meski aku tahu ia tetap seramah dulu bersama senyuman manisnya. Tapi bukan hanya untukku melainkan untuk kita semua. Hingga akhirnya bersama ujung perspektif, ia pun menghilang. Kukira kita mempunyai kesan yang sama atas pertemuan kemarin sore itu. Tapi ternyata aku salah. Kesan itu bahkan tak lebih dari sekedar epsilon baginya. Sebuah kesan yang something bagiku tapi nothing baginya.

Fiuhh, mungkin aku adalah bagian dari korban keramahan. Mencoba menciptakan sendiri sebuah ilusi yang bahkan tak pernah terjadi. Hingga akhirnya jatuh dalam jurang ilusi menjadi salah satu pilihan yang tak dapat kutolak. Tak kusangka ilusi ini terlalu pintar membohongiku. Membuatku merasakan something yang ternyata nothing baginya. 
Yogyakarta, 16 Oktober 2013
-Auroramalia-




Jumat, 20 September 2013

Di Bawah Tenda Matematika

Hari ini.. di bawah tenda matematika kita bertemu...
Di antara teorema yang masih butuh pembuktian
Atau justru aksioma yang tlah pasti dan tak lagi butuh pembuktian
Di antara deret aljabar yang berkesan
tautan fungsi yang saling berkait
hingga kalkulus cinta yang penuh kejutan
kita menyapa
bahagia...
sungguh bahagia yang membuncah
Aku tak yakin pertemuan ini adalah suatu kebetulan
logikaku menolaknya
bagiku epsilon lebih tepat untuk suatu kebetulan
karena menurutku ini lebih terkait tentang sebuah peluang
Ya, peluang yang Allah takdirkan untuk muncul hari ini.

-Di Bawah Tenda Matematika-
Senin, 16 September 2013