Dalam beberapa kesempatan, ada beberapa pertanyaan filsafat yang tiba-tiba berkeliaran di kepala saya. Seperti ini :
1. Hal-hal
apa saja yang perlu kita persiapkan agar bisa berhasil dalam menjalani fase
kepompong kehidupan?
2. Bagaimana
agar proses idealisasi bisa berjalan secara ideal dan murni?
3. Pedoman
apa yang perlu dipahami agar proses fenomenologi dapat berjalan secara terarah?
4. Apakah
kebenaran hegemoni dan kebenaran otoritatif bisa diterapkan dalam konteks
matematika? Jika bisa, bagaimana penerapannya?
5. Bagaimana
hubungan antara kebenaran absolut relativistic dan kebenaran absolut
transedentalistik ideal?
6. Apakah
intuisi bisa mengukur dan memahami semua hal yang bersifat abstrak?
7. Apakah
intuisi seorang manusia bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri?
8. Apakah
macam-macam atmospir yang dimiliki oleh seseorang dalam hidupnya harus berada
dalam keadaan yang seimbang?
9. Fallibisme
berarti boleh salah, karena di luar kemampuan. Tapi, bagaimana jika fallibisme
ini justru berpotensi menimbulkan hadirnya banyak hoaks?
10. Sejauh
apa paham fallibisme bisa digunakan oleh seseorang? Adakah syarat-syarat
penggunaan paham fallibisme ini?
11. Bagaimana
struktur matematika intuitif dapat terbentuk dalam diri seorang anak? Apakah ia
terbentuk dengan sendirinya atau dibentuk dengan suatu kesadaran?
12. Apakah
mungkin jika seorang anak dapat menghitung atau menambah satu demi satu, tanpa
menemukan struktur matematika intuitif terlebih dahulu?
13. Jika
kebenaran tertinggi absolut adalah kebenaran sebagai Kuasa Tuhan dengan
kepastian absolut, bagaimana dengan orang-orang yang berfilsafat namun tidak
mempercayai keberadaan Tuhan? Apa kebenaran tertinggi absolu menurut mereka?
14. Apakah
keunggulan ditermin yang dimiliki oleh suatu/seorang makhluk bisa menjadikannya
lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya?
15. Tanpa
keunggulan ditermin, apakah budaya dan peradaban manusia tidak dapat terbentuk?
16. Ada
berapa banyak struktur dunia yang bisa ditemukan saat berfilsafat?
17. Mungkinkah
suatu kebenaran konformitas memiliki kekeliruan di dalamnya?
18. Kebenaran
asumsi dapat menghasilkan kebenaran isomorpisma. Eksperimen menghubungkan
kebenaran subjektif dan kebenaran objektif juga dapat menghasilkan kebenaran
isomorpisma. Apakah kemudian kebenaran asumsi memiliki hubungan dengan
kebenaran subjektif dan objektif?
19. Apakah
kebenaran luar dan kebenaran dalam jika dieksperimenkan bisa menghasilkan
kebenaran isomorpisma?
20. Apa
hubungan antara unsur bentuk dan isi dengan kebenaran isomorpisma?
21. Kapan
kita bisa menggunakan pola pikir kontekstual (rasional) dan kapan kita bisa
menggunakan pola pikir universal (empiris)? Apakah ada batasannya?
© Filsafat Rizqi Khilda Amalia

3 komentar:
wah menarik ya kayanya filsafat tuh :3
Menarik sekali pembahasannya
Waaa kwerend sekali bahasannya, ternyata itungan tetap butuh filsafat ^^
Posting Komentar