RSS

Senin, 25 Januari 2021

Marsigit Filsafat Ilmu Rizqi Khilda Amalia : Pertanyaan dalam Filsafat Ilmu Pendidikan Matematika

Dalam beberapa kesempatan, ada beberapa pertanyaan filsafat yang tiba-tiba berkeliaran di kepala saya. Seperti ini :

1.     Hal-hal apa saja yang perlu kita persiapkan agar bisa berhasil dalam menjalani fase kepompong kehidupan?

2.      Bagaimana agar proses idealisasi bisa berjalan secara ideal dan murni?

3.      Pedoman apa yang perlu dipahami agar proses fenomenologi dapat berjalan secara terarah?

4.      Apakah kebenaran hegemoni dan kebenaran otoritatif bisa diterapkan dalam konteks matematika? Jika bisa, bagaimana penerapannya?

5.      Bagaimana hubungan antara kebenaran absolut relativistic dan kebenaran absolut transedentalistik ideal?

6.      Apakah intuisi bisa mengukur dan memahami semua hal yang bersifat abstrak?

7.      Apakah intuisi seorang manusia bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri?

8.      Apakah macam-macam atmospir yang dimiliki oleh seseorang dalam hidupnya harus berada dalam keadaan yang seimbang?

9.      Fallibisme berarti boleh salah, karena di luar kemampuan. Tapi, bagaimana jika fallibisme ini justru berpotensi menimbulkan hadirnya banyak hoaks?

10.  Sejauh apa paham fallibisme bisa digunakan oleh seseorang? Adakah syarat-syarat penggunaan paham fallibisme ini?

11.  Bagaimana struktur matematika intuitif dapat terbentuk dalam diri seorang anak? Apakah ia terbentuk dengan sendirinya atau dibentuk dengan suatu kesadaran?

12.  Apakah mungkin jika seorang anak dapat menghitung atau menambah satu demi satu, tanpa menemukan struktur matematika intuitif terlebih dahulu?

13.  Jika kebenaran tertinggi absolut adalah kebenaran sebagai Kuasa Tuhan dengan kepastian absolut, bagaimana dengan orang-orang yang berfilsafat namun tidak mempercayai keberadaan Tuhan? Apa kebenaran tertinggi absolu menurut mereka?

14.  Apakah keunggulan ditermin yang dimiliki oleh suatu/seorang makhluk bisa menjadikannya lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya?

15.  Tanpa keunggulan ditermin, apakah budaya dan peradaban manusia tidak dapat terbentuk?

16.  Ada berapa banyak struktur dunia yang bisa ditemukan saat berfilsafat?

17.  Mungkinkah suatu kebenaran konformitas memiliki kekeliruan di dalamnya?

18.  Kebenaran asumsi dapat menghasilkan kebenaran isomorpisma. Eksperimen menghubungkan kebenaran subjektif dan kebenaran objektif juga dapat menghasilkan kebenaran isomorpisma. Apakah kemudian kebenaran asumsi memiliki hubungan dengan kebenaran subjektif dan objektif?

19.  Apakah kebenaran luar dan kebenaran dalam jika dieksperimenkan bisa menghasilkan kebenaran isomorpisma?

20.  Apa hubungan antara unsur bentuk dan isi dengan kebenaran isomorpisma?

21.  Kapan kita bisa menggunakan pola pikir kontekstual (rasional) dan kapan kita bisa menggunakan pola pikir universal (empiris)? Apakah ada batasannya?

Kalau teman-teman berkenan untuk menjawabnya atau mendiskusikannya, kindly to contact me yaaa! ^^

© Filsafat Rizqi Khilda Amalia

3 komentar:

Unknown mengatakan...

wah menarik ya kayanya filsafat tuh :3

Hermadeta Widya Septiani mengatakan...

Menarik sekali pembahasannya

Haanahima mengatakan...

Waaa kwerend sekali bahasannya, ternyata itungan tetap butuh filsafat ^^

Posting Komentar